Profile

Join date: Sep 16, 2022

About

Rekreasi 1000 Lampion Waisak di Candi Borobudur


Rayakan hari raya waisak di Candi Borobudur, Magelang, Indonesia tidak komplet rasanya tanpa melihat pelepasan beberapa ribu lampion ke angkasa. Tahun ini ada 5.000 lampion yang dilepaskan ke udara pada perayaan waisak di Candi Borobudur tahun 2016. Pelepasan lampion Waisak umumnya diadakan pada Sabtu. Peserta dan pelancong diharap kenakan pakaian santun, bawahan atau atasan. Wanita tidak dikenankan menggunakan baju ketat atau celana atau rok pendek.


Tiap tahun, Candi Borobudur yang dibuat pada periode Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra (824 M) ini jadi tempat perayaan hari suci agama Buddha, yakni Waisak. Perayaan Waisak di Candi Borobudur yang berumur lebih tua 300 tahun dari Angkor Wat itu selalu menarik beberapa ribu umat Buddha dari beragam negara dan pelancong yang khusus tiba untuk menyaksikan ritus keramat dan mengagumkan itu. Bahkan juga di beberapa hari biasa, Menurut situs iTrip, monumen Buddha paling besar di dunia dengan 504 patung Buddha, 72 stupa terawang, dan 1 stupa induk ialah daya tarik peninggalan budaya yang benar-benar bernilai dan pantas dikunjungi.


Waisak dirayakan sekali tiap tahunnya, yakni tiap bulan purnama pada bulan Mei atau Purnama Sidhi. Waisak mengingati tiga kejadian terpenting di kehidupan Buddha Gautama Siddharta dan dikenali sebagai Tri Suci Waisak. Kejadian penting pertama ialah kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini tahun 623 SM. Kejadian penting ke-2 ialah pencerahan di mana Pangeran Siddharta jadi Buddha di Bodhgaya pada umur 35 di tahun 588 SM. Ke-3 ialah meninggal dunianya Buddha Gautama di Kusinara pada umur 80 tahun (543 SM).


Upacara keramat waisak di candi borobudur didului beberapa ritus sekian hari awalnya, seperti ambil air suci dari mata air murni di Jumprit, Kabupaten Temanggung. Air suci yang dibungkus dalam kira-kira sepuluh ribu botol dan 70 kendi selanjutnya akan diletakkan di Candi Mendut yang berada tidak jauh dari Candi Borobudur. Umat Buddha yakin jika air ialah elemen alam penting untuk acara Waisak. Air dipakai untuk menyalurkan kebaikan.


Hari selanjutnya ialah ritus menghidupkan obor Waisak, yang sumber apinya diambil dari api kekal di Mrapen. Mrapen persisnya ada di Dusun Grobogan, Purwodadi, Jawa tengah. Seperti air suci, api ini juga lebih dahulu diletakkan di Candi Mendut saat sebelum datang pucuk perayaan Waisak di Candi Borobudur. Untuk umat Buddha, api ialah pertanda sinar. Sebenarnya sinar bisa menghapuskan kesuraman dan bawa jelas atau dapat dimisalkan sebagai sinar pengetahuan di gelapnya kehidupan. Dengan api juga, umat Buddha ingin bersihkan semua tipe kotoran batin dengan membakarnya.


Ritus pindapatta akan dilaksanakan sebagai sisi dari ritus Waisak. Datang dari kata ‘panda' yang memiliki arti sepotong makanan dan ‘patta' (patra) yang memiliki arti mangkok. Pindapatta ialah ritus di mana biarawan Buddha (Bikku dan Bikkhuni) terima persembahan makanan dari jemaah Buddha. Biarawan Buddha akan jalan dengan kepala menunduk sekalian menggenggam mangkok dan jemaah secara suka-rela akan isi mangkok mereka dengan makanan. Filosofi dibalik ritus ini ialah perlakuan memberikan dan terima sebagai latihan kepribadian baik untuk biarawan dan penganut Buddha, sesuai tuntunan Buddha. Untuk beberapa bhikkhu, pindapatta adalah langkah latih diri hidup simpel dan belajar menghargakan pemberian.


Di hari pucuk perayaan Waisak di Candi Borobudur, Biksu dan jemaah Buddha akan bergabung di Candi Mendut semenjak pagi hari. Dari Mendut, mereka akan mengawali perjalanan dengan jalan kaki ke arah Candi Borobudur melalui Candi Pawon, Sungai Elo dan Sungai Progo. Dalam acara ini obor Waisak, air suci, dan simbol-simbol Buddha yang lain akan dibawa ke altar khusus di halaman segi barat Candi Borobudur sebagai lokasi perayaan Waisak. Sepanjang acara, paritta atau bacaan ayat-ayat suci dari kitab suci Buddha dilantunkan beberapa biarawan. Perjalanan ini akan memerlukan waktu kira-kira tiga jam perjalanan.


Di pekarangan segi barat Candi Borobudur, patung Buddha raksasa terlihat duduk anggun sekalian istimewa di singgasana berwujud lotus. Beragam jenis persembahan dimulai dari lilin, bunga, dan dupa dari beberapa jemaah ditaruh di altar yang ada pas di muka patung Buddha yang istimewa itu. Di waktu malam mendekati, keelokan Candi Borobudur makin meriah oleh sinar lilin yang menjadi satu diantara elemen utama upacara. Lilin bukan hanya berperanan sebagai persembahan tapi juga sebagai representasi dhamma. Dia bermakna yang keramat yaitu sebagai lambang rasa hormat ke Buddha dan kebijakan.


Sesudah menghidupkan lilin, Ghata Visaka Puja akan dibacakan oleh beberapa jemaah. Sinar bulan yang berkilau halus di langit Candi Borobudur jadi saksi kekhusukan jemaah yang membacakan doa suci. Ritus diteruskan dengan pradaksina atau ritus melingkari Candi Borobudur sekitar 3x diawali dari segi timur dan bergerak sama arah jarum jam.


Mengidentifikasi akhir seri ritus Waisak di Candi Borobudur, beberapa ribu lentera Puja akan dilepaskan ke langit sebagai pertanda pencerahan untuk semua semesta alam. Saat sebelum melepas lampion ke angkasa, jemaah akan menghaturkan doa dan keinginannya ke Tuhan. Beberapa bhiksu akan pimpin setiap barisan untuk memulai menghidupkan sumbu dalam lampion saat sebelum melepas lampion-lampion sampai penuhi langit di pekarangan Candi Borobudur seperti Wisata di Blitar.


Keelokan dan kesan-kesan keramat akan sentuh siapa saja khususnya saat beberapa ribu lampion-lampion yang kontras dengan pekat langit malam itu mengangkasa, mengantar doa dan keinginan jemaah ke Tuhan. Benar-benar sebuah pengalaman religius yang kesannya tidak cukup diwakili dengan kalimat serta photo sekalinya.


Untuk anda yang tertarik untuk ikuti pelepasan beberapa ribu lampion pada acara perayaan waisak di Candi Borobudur dengan kami Daya tarik Indonesia, anda dapat segera membuat booking pemesanan online lewat menu reservasi online atau dapat mengontak kami segera lewat contact yang disiapkan.

DanielIsaaco

More actions